REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) meluncurkan Science and Techology Index (SINTA) Versi 2.0. SINTA adalah sistem aplikasi yang dibuat untuk mendata publikasi dan sitasi nasional serta internasional dari dosen dan peneliti di Indonesia. SINTA dapat memetakan kepakaran dan pemeringkatan kinerja dari penulis, institusi dan jurnal terbaik di Indonesia.
SINTA diharapkan dapat memotivasi para dosen dan peneliti agar lebih giat menghasilkan publikasi, kata Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir di Kantor Kemristekdikti, Senayan, Jakarta, Jumat (4/8).
SINTA Versi 2.0 merupakan penyempurnaan dari SINTA Versi 1.0 yang diluncurkan pada 30 Januari 2017 di Universitas Gajag Mada (UGM). SINTA versi 2.0 mengalami sejumlah pembaruan, seperti, pendaftaran penulis yang sebelumnya mendaftarkan diri secara manual sebanyak 17 ribu, di versi terbarunya secara otomatis penulis yang terdaftar sebanyak 32.218 dari 1.424 institusi di mana sebanyak 25.472 penulis sudah terverifikasi.
Pada SINTA versi 1.0 pendaftaran jurnal berjumlah 3.820 jurnal yang sudah elektronik dimasukkan tanpa evaluasi. Sementara pada SINTA versi 2.0, sebanyak 1.807 jurnal mendaftar ke Arjuna dan 959 telah dievaluasi. Nasir juga menambahkan adanya perbaikan fitur dan tampilan supaya terlihat lebih internasional.
Sementara itu, jumlah pengguna internet yang mengakses SINTA per 30 Januari 2017 hingga Juni 2017 adalah 78.644.768. Maising-masing, berasal dari Amerika Serikat (24 juta), Eropa (545 ribu), Afrika (3.879), Asia (diluar Indonesia, 40 juta), Indonesia (14 juta), dan lainnya 95.889.
Menristekdikti mengatakan, Kemristekdikti akan mengapresiasi para dosen dan peneliti dengan publikasi terproduktif di SINTA pada peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (HAKTEKNAS) ke-22 yang akan digelar di Kota Makassar pada 10 Agustus 2017.
Kurikulum pendidikan nasional telah berupaya mengakomodir kekhususan budaya masyarakat adat di Indonesia. Salah satunya melalui celah pendidikan muatan lokal. Sayangnya, pendidikan muatan lokal masih memiliki porsi kecil dan tergantung inisiatif masing-masing satuan pendidikan.
Hal itu tentu belum menjawab kekhususan yang dimiliki masyarakat adat. “Untuk menjawab permasalahan tersebut, kita masih perlu memikirkan dan merumuskan secara bersama antara pihak-pihak terkait untuk memunculkan kurikulum pendidikan kontekstual yang pas terhadap keberadaan masyarakat adat,” kata Herry Yogaswara mewakili Kepala Pusat Penelitian Kependudukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada pembukaan diskusi bertajuk Mencari Rumusan Pendidikan Kontekstual bagi Masyarakat Adat, Selasa (27/09), di LIPI Pusat Jakarta.
Herry mencermati bahwa kurikulum sistem pendidikan nasional saat ini masih belum sesuai dengan konteks lokal dan mengancam keberlangsungan hidup masyarakat adat. “Sistem tersebut mencerabut anak-anak masyarakat adat dari orang tua, budaya, pola pikir, cara hidup dan pengetahuan di wilayah adat, yang menyebabkan hilang rasa percaya diri dengan identitasnya,” jelasnya.
Dikatakannya, LIPI bekerjasama dengan SOKOLA Institute berupaya merumuskan kurikulum pendidikan kontekstual bagi masyarakat adat tersebut. Kurikulum tersebut mengacu pada deklarasi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) tentang Hak-hak Masyarakat Adat dan Indonesia menjadi salah satu negara yang menandatanganinya.
Deklarasi tersebut menyebutkan masyarakat adat memiliki hak untuk membentuk dan mengontrol sistem pendidikan mereka dan institusi-institusi yang menyediakan pendidikan dalam bahasa mereka sendiri. Dengan suatu cara yang cocok dengan budaya mereka tentang pengajaran dan pembelajaran.
Abdon Nababan dari Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) menambahkan, pendidikan untuk masyarakat adat adalah melakukan perubahan pola pikir atas rekonstruksi sosial yang telah berlangsung lama dan terus terjadi. “Hal yang harus diubah adalah perspektif bahwa masyarakat adat adalah masyarakat kelas dua. Anggapan tersebut perlu dihilangkan agar pendidikan kontekstual bisa berjalan dengan baik,” ungkapnya.
Menurutnya, pendidikan berbasis masyarakat adat secara garis besar bertujuan untuk memberikan ruang untuk mempraktikkan dan mewariskan kembali pengetahuan leluhur. Selain itu, juga untuk memberantas buta huruf di masyarakat adat dan membuka kesadaran masyarakat dan individu untuk memahami ketertindasan sosial, politik dan ekonomi serta bertindak melawan elemen-elemen penindasan yang ada di dalam masyarakat adat, pungkas Abdon. (dnh/ed:pwd)
Hal itu tentu belum menjawab kekhususan yang dimiliki masyarakat adat. “Untuk menjawab permasalahan tersebut, kita masih perlu memikirkan dan merumuskan secara bersama antara pihak-pihak terkait untuk memunculkan kurikulum pendidikan kontekstual yang pas terhadap keberadaan masyarakat adat,” kata Herry Yogaswara mewakili Kepala Pusat Penelitian Kependudukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada pembukaan diskusi bertajuk Mencari Rumusan Pendidikan Kontekstual bagi Masyarakat Adat, Selasa (27/09), di LIPI Pusat Jakarta.
Herry mencermati bahwa kurikulum sistem pendidikan nasional saat ini masih belum sesuai dengan konteks lokal dan mengancam keberlangsungan hidup masyarakat adat. “Sistem tersebut mencerabut anak-anak masyarakat adat dari orang tua, budaya, pola pikir, cara hidup dan pengetahuan di wilayah adat, yang menyebabkan hilang rasa percaya diri dengan identitasnya,” jelasnya.
Dikatakannya, LIPI bekerjasama dengan SOKOLA Institute berupaya merumuskan kurikulum pendidikan kontekstual bagi masyarakat adat tersebut. Kurikulum tersebut mengacu pada deklarasi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) tentang Hak-hak Masyarakat Adat dan Indonesia menjadi salah satu negara yang menandatanganinya.
Deklarasi tersebut menyebutkan masyarakat adat memiliki hak untuk membentuk dan mengontrol sistem pendidikan mereka dan institusi-institusi yang menyediakan pendidikan dalam bahasa mereka sendiri. Dengan suatu cara yang cocok dengan budaya mereka tentang pengajaran dan pembelajaran.
Abdon Nababan dari Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) menambahkan, pendidikan untuk masyarakat adat adalah melakukan perubahan pola pikir atas rekonstruksi sosial yang telah berlangsung lama dan terus terjadi. “Hal yang harus diubah adalah perspektif bahwa masyarakat adat adalah masyarakat kelas dua. Anggapan tersebut perlu dihilangkan agar pendidikan kontekstual bisa berjalan dengan baik,” ungkapnya.
Menurutnya, pendidikan berbasis masyarakat adat secara garis besar bertujuan untuk memberikan ruang untuk mempraktikkan dan mewariskan kembali pengetahuan leluhur. Selain itu, juga untuk memberantas buta huruf di masyarakat adat dan membuka kesadaran masyarakat dan individu untuk memahami ketertindasan sosial, politik dan ekonomi serta bertindak melawan elemen-elemen penindasan yang ada di dalam masyarakat adat, pungkas Abdon. (dnh/ed:pwd)
Sumber : Biro Kerja sama, Hukum, dan Humas LIPI
Jakarta, Humas LIPI. Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Iskandar Zulkarnain mengharapkan pemerintah dan berbagai pihak terkait memberikan dukungan pengembangan iptek nasional, khususnya bagi ilmu sosial dan humaniora yang ada di Indonesia. Ini mengingat perkembangan ilmu tersebut cenderung mengalami stagnasi dan krisis identitas.
“Kontribusi ilmu sosial Indonesia dalam pembangunan juga masih minim. Padahal, ilmu ini diperlukan dalam setiap aspek pembangunan di Indonesia dan juga untuk mengeluarkan Indonesia dari negara middle income trap (jebakan negara berpendapatan menengah),” ungkapnya dalam acara The 1st International Conference on Social Sciences and Humanities (ICSSH) pada Selasa (18/10) di Auditorium LIPI Jakarta.
Harap maklum, Iskandar menyebutkan bahwa pendapatan per kapita penduduk Indonesia masih belum naik signifikan dari 2004 hingga sekarang dan terkategori dalam negara berpendapatan menengah. Pada 2004, pendapatannya rata-rata 3.000 dollar Amerika Serikat (AS), sedangkan sekarang di kisaran 3.600 dollar AS. “Padahal untuk keluar dari jebakan pendapatan menengah ini, pendapatan per kapita penduduk harus lebih dari 12.000 dollar AS,” sambungnya.
Bila berkaca dari Korea Selatan dan Taiwan yang telah keluar dari jebakan tersebut, Iskandar menekankan bahwa kuncinya ada pada pengembangan riset dan inovasi. “Pemerintah harus mendukung pengembangan iptek yang di dalamnya terdapat riset dan inovasi, tak terkecuali ilmu sosial dan humaniora,” katanya.
Peran ilmu sosial, lanjutnya, bisa menjadi jembatan antara akademisi/peneliti dengan dunia industri. “Hasil riset ilmu sosial diharapkan mendekatkan antara kedua pihak yang selama ini masih ada jurang pemisah,” tuturnya.
Fokus Perhatian
Tri Nuke Pudjiastuti, Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan (IPSK) LIPI menambahkan, agar ilmu sosial dan humaniora berperan penting lagi dalam pembangunan, maka pemerintah secara perlahan harus mengubah cara pandangnya. “Selama ini, ilmu sosial masih belum menjadi mainstream atau fokus perhatian dan itu harus diubah,” tukasnya.
Selain itu, kata Nuke, sisi pendanaan riset ilmu tersebut juga perlu mendapat perhatian. Sedangkan, sisi lainnya adalah pengembangan ilmu ini hendaknya mengedepankan independensi untuk konsep ke-Indonesiaan.
Kepala Pusat Penelitian Sumber Daya Regional LIPI, Ganewati Wuryandari mengimbuhkan, selain dukungan pemerintah, kemajuan ilmu sosial juga ditentukan bagaimana penelitian sosial di Indonesia mampu menjawab tantangan terkini untuk mengejar ketertinggalan. Semisal, berani menggarap kajian yang sudah booming(meledak, red) di tataran global seperti kajian tentang big data, sambungnya.
Dirinya menuturkan, kajian big data penting di era sekarang apalagi kian majunya internet. Sayangnya, kajian itu belum mendapat perhatian di Indonesia sehingga berisiko makin tertinggal lagi bila tidak menyiapkan diri dari sekarang, tutupnya. (pwd/ed:isr)
Sumber : Biro Kerja sama, Hukum, dan Humas LIPI
(http://lipi.go.id/berita/Pemerintah-Diharapkan-Dukung-Pengembangan-Ilmu-Sosial-di-Indonesia/16665)
Berikut ini saya akan mencontohkan produk berupa LKS yang isiannya menggunakan google forms, simulasinya menggunkan PhET, dan semua media tersebut bisa kita Embed di blog kita.
Oleh: Ardian Asyhari, M.Pd.
(Agar bisa terlihat cukup baik, gunakan Google Chrome dari laptop atau komputer desktop)
Oleh: Ardian Asyhari, M.Pd.
(Agar bisa terlihat cukup baik, gunakan Google Chrome dari laptop atau komputer desktop)
Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat langsung masuk ke email guru yang bersangkutan untuk dikoreksi. Mungkin apa yang saya tampilkan kali ini bisa mengispirasi guru yang memiliki blog untuk membuat siswa mereka tetap belajar ketika mereka di rumah.
2016 Nobel Prize in Physics
David J. Thouless, F. Duncan M. Haldane, and J. Michael Kosterlitz won this year's Nobel Prize in Physics for their theoretical discoveries using topological concepts. Their work pioneered a new understanding of phase transitions of matter, paving the way for current and future work with topological insulators, superconducting materials, and other applications in condensed matter physics.
October 4, 2016 | Rachel Gaal
Source: http://www.aps.org/publications/apsnews/updates/nobel16.cfm
This year’s Nobel Prize for physics was awarded on October 4 with one half to David J. Thouless of the University of Washington, Seattle, and the other half to F. Duncan M. Haldane of Princeton University and J. Michael Kosterlitz of Brown University. Their theoretical work in the early 1970s and 1980s explained phenomenon in quantum states of matter, such as the quantum Hall effect and superfluid phase transitions, using the mathematical concepts of topology. Their work not only unlocked the explanation for transitions in these unusual phases of matter, but their success has now sparked an array of current research with topological materials, which could be used in future quantum computers or in new generations of electronics and superconductors.
2016 Nobel Laureates
David J. Thouless
University of Washington
University of Washington
F. Duncan M. Haldane
Princeton University
Princeton University
J. Michael Kosterlitz
Brown University
Brown University
The committee’s official citation reads, “For theoretical discoveries of topological phase transitions and topological phases of matter.” The 8 million Swedish krona (equivalent to just over $930,000) will be split among the three winners, with half going to Thouless and the other half shared by Haldane and Kosterlitz.
The collaboration of Kosterlitz and Thouless in the 1970s sought to challenge the theory that ordered phases and phase transitions could not occur in thin layers. With topology as a tool, they demonstrated that superfluidity can exist in a thin layer as a result of a transition between topologically distinct phases of matter. Now recognized as a fundamental mechanism in condensed matter physics, topological phases are now known in many materials, ranging from 1D materials, like chains of atoms, to thin layers of matter (2D) and some 3D materials.
The applications of topology extended into Thouless’s and Haldane’s work in the 1980s where they employed these concepts to unravel the magnetic properties of low-dimensional materials. Haldane studied magnetic atomic chains, and discovered that topological properties of the chains revealed themselves at the edges. This allowed researchers to only study the ends of atomic chains to determine whether they are topological or not. Thouless and colleagues described theoretically what is now known as the quantum Hall effect — when the electrical conductance in thin layers changes in step values that are exactly integer multiples. These precise steps are related to the concepts in topology in which objects are categorized by integer values.
"These theoretical discoveries illustrate in a very nice way the interplay between physics and mathematics, [where] theoretical physics is at the crossroad," commented Thors Hans Hannson, member of the Nobel committee for physics in an interview to the press after the announcement. "The Quantum Hall Effect became the starting point for David Thouless’s [achievement], and he explained the experiments with these topological invariances. In Duncan Haldane’s case ... he predicted effects of experiments performed 25 years later."
Their predictions proved to have an unexpected impact; the majority of these laureates’ work went beyond considering a material’s symmetry properties, in a way that was unheard of at the time of their initial research.
“It started out as a toy model demonstration, and then I realized it was a very good model,” explained Haldane at the Nobel committee’s press conference. “We stumbled upon this, playing with the mathematics of the model … and like most discoveries, you stumble onto them. You don’t realize the full implication until other people start thinking it’s true and they realize the big picture.”
Almost half of physics Nobel prizes in the past decade were awarded for research in condensed matter physics, and the field itself is rapidly growing – in part due to the theories set forth by the three new laureates.
"The 2016 Nobel Prize in Physics this year honors three researchers who have cracked a crucial part of this problem, explaining electronic and magnetic highly correlated states in two dimensions," said APS President-Elect Laura Greene. "These solutions are clever and inspiring, and have laid the foundation to today’s exploding field of topological matter — as indicated by the growing number of papers in this area taking up an ever larger fraction of the condensed matter community."
Thouless, Haldane, and Kosterlitz are all members and fellows of APS. Thoulessand Kosterlitz both received the 2000 Lars Onsager Prize for their work with topological phase transitions. Haldane was the recipient of the 1993 Oliver E. Buckley Condensed Matter Physics Prize, for his own contributions to low dimensional quantum systems.
Papers in Physical Review
Quantized Hall Conductance in a Two-Dimensional Periodic Potential
D. J. Thouless, Mahito Kohmoto, M. P. Nightingale, and M. Den Nijs
Phys. Rev. Lett. 49, 405 (1982)
Read Paper (free)
D. J. Thouless, Mahito Kohmoto, M. P. Nightingale, and M. Den Nijs
Phys. Rev. Lett. 49, 405 (1982)
Model for a Quantum Hall Effect without Landau Levels: Condensed-Matter Realization of the "Parity Anomaly"
F. D. M. Haldane
Phys. Rev. Lett. 61, 2015 (1988)
Nonlinear Field Theory of Large-Spin Heisenberg Antiferromagnets: Semiclassically Quantized Solitons of the One-Dimensional Easy-Axis Néel State
F. D. M. Haldane
Phys. Rev. Lett. 50, 1153 (1983)
Universal jump in the superfluid density of two-dimensional superfluids
David R. Nelson and J. M. Kosterlitz
Phys. Rev. Lett. 39, 1201 (1977)
Quantized hall conductance as a topological invariant
Qian Niu, D. J. Thouless, and Yong-Shi Wu
Phys. Rev. B 31, 3372 (1985)
Kemendikbud secara resmi telah
meluncurkan Revisi Kurikulum 2013 (K13) sejak
Maret 2016 kemarin untuk diterapkan pada tahun pelajaran 2016/2017. Kurikulum
2013 yang merupakan pengganti kurikulum 2006 atau KTSP ini
sebelumnya juga sudah sempat diterapkan. Namun sejak kepemimpinan Mendikbud
Anies Baswedan dinilai masih perlu dilakukan beberapa penyesuaian dan perubahan
sehingga penerapannya sempat dihentikan sementara. Berikut ini adalah beberapa
point perubahan penting kurikulum
2013 setelah dilakukan revisi.
1.
Menggunakan metode pembelajaran aktif.
Dengan
menggunakan metode pembelajaran aktif ini diharapkan guru mampu berperan
menjadi fasilitator pembelajaran yang membuat siswa menjadi menyenangi kegiatan
belajar mengajar. Jangan sampai kurikulumnya saja yang baru tapi cara
mengajarnya masih cara lama.
2.
Proses berpikir siswa tidak dibatasi.
Pada
kurikulum yang lama, berlaku sistem pembatasan. Yaitu, anak SD sampai memahami,
SMP menganalisis, dan SMA mencipta. Pada kurikulum hasil revisi ini, anak SD
boleh berpikir sampai tahap penciptaan. Tentunya dengan kadar penciptaan yang
sesuai dengan usia anak atau disesuaikan dengan kemampuannya.
3.
Penyederhanaan aspek penilaian guru.
Pada
K13 versi lama, seluruh guru wajib menilai aspek sosial dan spiritual
(keagamaan) siswa. Sistem ini yang kemudian banyak dikeluhkan oleh para guru.
Dalam skema yang baru, penilaian sosial dan keagamaan siswa cukup dilakukan
oleh guru PPKn dan guru pendidikan agama- budi pekerti. Sementara guru mata
pelajaran lainnya hanya menilai aspek akademik sesuai bidang yang diajarkan
saja.
4.
Meningkatkan hubungan Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD).
Dengan
peningkatan hubungan antara KI dan KD ini mengakibatkan banyak buku pelajaran
kurikulum 2013 lama yang harus diperbaharui. Secara konten atau isi tidak ada
yang salah dalam buku Kurikulum 2013. Kesalahan terdapat pada urutan,
terutama buku tematik yang merupakan integrasi dari berbagai mata pelajaran.
Sehingga yang berubah adalah urutannya, misalnya untuk pelajaran di kelas 8
sebelumnya teori pitagoras diajarkan pada semester 1, di buku edisi revisi baru
ini diajarkan di semester 2, urutan penyajian tetap disesuaikan dengan
kompetensi dasarnya.
5.
Teori 5M.
Teori
5M atau Mengingat, Memahami, Menerapkan, Menganalisis, dan Mencipta, tidak lagi
sebatas menjadi teori saja. Tetapi, guru dituntut untuk benar-benar
menerapkannya dalam pembelajaran.
Pengetahuan yang selama ini diketahui umumnya
orang adalah bahwa bumi itu bulat, namun berkembang juga pemahaman bahwa bumi
itu datar atau disebut juga pemahaman flat earth
Salah satu
masalah yang sedang berkembang akhir-akhir ini adalah perdebatan mengenai
bentuk bumi kita, apakah bulat ataukah datar. Pengetahuan yang selama ini
diketahui umumnya orang adalah bahwa bumi itu bulat, namun berkembang juga
pemahaman bahwa bumi itu datar atau disebut juga pemahaman flat earth. Beberapa
ulama sebenarnya telah membahas hal ini, mereka membahas masalah bentuk bumi
dari perspektif syariat. Tentunya mereka berdalil dengan yang tersirat dalam
auat-ayat Al-Quran dan hadits Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam yang
mengabarkan tentang alam semesta ini.
Klaim ijma bumi itu bulat
Perlu
diketahui bahwa ada klaim ijma’ dari sebagian ulama bahwa bumi itu
bulat. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,
وقال الإمام أبو الحسين أحمد بن جعفر بن المنادي من أعيان العلماء
المشهورين بمعرفة الآثار والتصانيف الكبار في فنون العلوم الدينية من الطبقة
الثانية من أصحاب أحمد : لا خلاف بين العلماء أن السماء على مثال الكرة ……
قال : وكذلك أجمعوا على أن الأرض بجميع حركاتها من البر والبحر مثل
الكرة . قال : ويدل عليه أن الشمس والقمر والكواكب لا يوجد طلوعها وغروبها على
جميع من في نواحي الأرض في وقت واحد ، بل على المشرق قبل المغرب
“Telah berkata Imam Abul Husain Ibnul Munadi rahimahullah termasuk ulama
terkenal dalam pengetahuannya terhadap atsar-atsar dan kitab-kitab besar pada
cabang-cabang ilmu agama, yang termasuk dalam thabaqah/tingkatan kedua ulama
dari pengikut imam Ahmad: “Tidak ada perselisihan di antara para ulama
bahwa langit itu seperti bola
Beliau
juga berkata: “Demikian pula mereka telah bersepakat bahwa bumi ini dengan
seluruh pergerakannya baik itu di daratan maupun lautan, seperti bola
Beliau
berkata lagi: “Dalilnya adalah matahari , bulan dan bintang-bintang tidak
terbit dan tenggelam pada semua penjuru bumi dalam satu waktu, akan tetapi
terbit di timur dahulu sebelum terbit di bara”1.
Demikian juga Ibnu Hazm rahimahullah berkata,
أن أحد من أئمة المسلمين
المستحقين لإسم الإمامة بالعلم رضي الله عنهم لم ينكروا تكوير الأرض ولا يحفظ لأحد
منهم في دفعه كلمة بل البراهين من القرآن والسنة قد جاءت بتكويرها
“Para
Imam kaum muslimin yang berhak mendapar gelar imam radhiallahu anhum tidak
mengingkari bahwa bumi itu bulat. Tidak pula diketahui dari mereka yang
membantah sama sekali, bahkan bukti-bukti dari Al-Quran dan Sunnah membuktikan
bahwa bumi itu bulat”2.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata,
في كون الأفلاك كروية الشكل
والأرض كذلك وأن نور القمر مستفاد من نور الشمس وأن الكسوف القمرى عبارة عن انمحاء
ضوء القمر بتوسط الأرض بينه وبين الشمس
“Bahkan
alam semesta dan bumi betuknya adalah bola, demikian juga penjelasan bahwa
cahaya bulan berasal dari pantulan sinar matahari dan gerhana bulan terjadi
karena cahaya bulan terhalang oleh bumi yang terletak antara bulan dan
matahari”3.
Demikian
juga pendapat bahwa beberapa ulama kontemporer seperti Syaikh Abdul Aziz bin
Baz, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin dan ulama lainnya.
Batalnya klaim Ijma’
Perlu
diketahui juga bawa ada beberapa ulama ada yang menafikan bahwa bumi itu bulat
seperti Al-Qahthaniy Al-Andalusy dalam kitab Nuniyah-nya,
كذب المهندس والمنجم مثله …
فهما لعلم الله مدعيان
الأرض عند كليهما كروية … وهما
بهذا القول مقترنان
والأرض عند أولي النهى لسطيحة …
بدليل صدق واضح القرآن
“Telah
berbohong ilmuan dan astronom yang semisal … mereka mengklaim atas ilmu Allah”
“Bumi menurut
mereka bulat … mereka bergandengan dengan pendapat ini”
“Bumi
menurut ahli ilmu agama adalah datar … dengan dalil yang jelas dari Al-Quran”4.
Demikian juga dalam Tafsir Jalalain, ketika
menafsirkan ayat
وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ
سُطِحَتْ
“Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?” (Al-Ghaasyiyah:
20).
Dijelaskan
bahwa dzahir ayat bumi itu (سُطِحَتْ) “sutihat”
menunjukkan bumi itu (سطحية) “sathiyyah”
yaitu bulat, dalam tafsir dijelaskan,
سطحت ظاهر في أن الأرض سطح
وعليه علماء الشرع لا كرة كما قاله أهل الهيئة
“Makna ‘sutihat’ zahirnya
menunjukkan bahwa bumi itu datar dan dijelaskan oleh ulama, bukan bulat
sebagaimana dikatakan oleh ahli astronom”5.
Demikian juga Al-Qurthubi dalam
tafsirnya, membantah bahwa bumi bulat, ketika menafsirkan ayat,
وَالْأَرْضَ مَدَدْنَاهَا
وَأَلْقَيْنَا فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنْبَتْنَا فِيهَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ مَوْزُونٍ
“Dan Kami telah menghamparkan bumi dan
menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu
menurut ukuran” (Al-Hijr: 19).
Beliau Al-Qurthubi berkata,
وهو يرد على من زعم أنها كالكرة
“Ini
adalah bantahan bagi mereka yang menyangka bahwa bumi itu seperti bola”6.
Dari
sini kita ketahui bahwa ada ulama yang menyelisihi klaim ijma’ yang disebutkan
di atas.
Dalil-dalil yang digunakan kedua
pendapat, dari Al-Quran dan As Sunnah
Masing-masing
pendapat yang ada berdalil dengan Al Quran dan Sunnah dan saling membantah.
Jika membahas dalil-dalil mereka maka cukup panjang, maka kita beri beberapa
contoh saja:
1) Dalil bahwa bumi itu bulat
menurut pro bumi bulat, surat Az Zumar ayat 5
Allah berfirman,
يُكَوِّرُ اللَّيْلَ عَلَى
النَّهَارِ وَيُكَوِّرُ النَّهَارَ عَلَى اللَّيْلِ
“Dia menutupkan/menggilirkan (takwrir) malam
atas siang dan menutupkan/menggilirkan siang atas malam” (Az-Zumar
: 5).
Pro bumi
bulat berkata bahwa takwir itu
bermakna lingkaran atau melingkari, misalnya melingkari penutup kepala imamah,
karenanya bumi itu bulat-bola bergantian siang dan malam.
Pro bumi
datar membantah bahwa justru itu dalil bahwa bumi itu datar dan berbentuk
lingkaran (piring bulat), matahari dan bulan berputar melingkar di atas bumi
dan menggantikan siang dan malam.
2) Dalil bumi itu datar menurut
pro bumi datar, surat At Thur ayat 6
Yaitu
posisi baitul makmur (ka’bah
penduduk langit) yang berada tepat sejajar di atas ka’bah dunia di Mekkah
وَالْبَيْتِ الْمَعْمُورِْ
وَالسَّقْفِ الْمَرْفُوعِْ . وَالْبَحْرِ الْمَسْجُورِ
“dan demi Baitul Ma’mur , dan atap yang
ditinggikan (langit), dan laut yang di dalam tanahnya ada api,” (QS.
At-Thur: 4-6)
Al-Baghawi rahimahullah berkata,
” والبيت المعمور “، بكثرة
الغاشية والأهل، وهو بيت في السماء حذاء العرش بحيال الكعبة
“Baitul Makmur: banyaknya yang memenuhi dan
penduduknya, yaitu rumah di langit sekitar ‘Arsy dan sejajar dengan Ka’bah
bumi” 7.
Pro bumi
datar berkata: “Bagaimana mungkin bumi bulat-bola dan berputar kemudian baitul
makmur sejajar dengan baitullah di Mekkah, bagaimana bisa sejajar kalau
bumi-bulat berputar? berarti baitul makmur mutar-mutar di atas langit ikut
bumi? Ini tidak masuk akal. Kalau bumi datar maka masuk akal jika sejajar”.
Pro bumi
bulat membantah: “bisa jadi, ini hal ghaib yang tidak bisa masuk akal manusia,
banyak hal ghaib yang tidak masuk akal kita sekarang, seperti di hari kiamat
ada yang berjalan dengan wajahnya dalam Al-Quran. Orang dahulu tidak masuk akal
jika ada yang bisa pergi ke tempat yang jauh dalam semalam saja, di zaman
sekarang bisa saja dengan pesawat super cepat”.
3) Dalil bumi datar menurut pro
bumi datar, surat Al Ghasyiyah ayat 20
Ayat yang menjelaskan bahwa bumi
itu dihamparkan. Allah berfirman,
وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ
سُطِحَتْ
“Dan (apakah manusia tidak mau memikirkan)
bagaimana bumi itu dihamparkan?” (Al-Ghasyiyah: 20).
Pro-datar
berkata: “ini sangat jelas mengatakan bumi dihamparkan, menghamparkan permadani
misalnya, tentu pada benda yang datar”.
Pro-bulat
membantah: “silahkan lihat penjelasan ulama semisal syaikh Al-Utsaimin8 dan fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah9 yang menjelaskan bahwa
bumi itu datar bagi pandangan manusia dari bumi, sedangkan bentuk sebenarnya
adalah bulat-bola”.
4) Dalil bumi bulat menurut pro
bumi bulat, klaim ijma’ dari Syaikhul Islam, Ibnu Hazm dan beberapa ulama lain.
Namun
klaim ijma’ ini perlu dikritik karena adanya pendapat lain dari ulama
terdahulu seperti Al Qurthuby dan penulis Tafsir Jalalain yang telah di sebutkan di
atas.
Sebenarnya
masih banyak lagi dalil-dalil lainnya yang menjadi pembahasan dua kubu dan kita
cukupkan saja contohnya sebagaimana di atas.
Tidak ada dalil yang tegas
menyatakan bahwa bumi bulat atau datar
Setelah
kita melihat pendalilan dua kelompok yang berbeda pendapat, maka kita dapatkan
dalam satu dalil yang sama, bisa mereka gunakan untuk mendukung pendapat mereka
masing-masing yang bertentangan padahal dalilnya sama. Memang dalam Al-Quran
dan Sunnah tidak didapatkan dalil yang tegas dan jelas mengenai hal ini yang
menyebut dengan tegas “bumi bulat-bola” atau “bumi datar”.
Kita
bisa lihat yang pro-bulat menggunakan penjelasan syaikh Al-‘Utsaimin mengatakan
bahwa bumi itu bulat dengan dalil dan penjelasan oleh Syaikh. Akan tetapi di
sisi lain, Syaikh Al-Ustaimin dan juga Syaikh Bin Baz berpendapat bahwa bumi
adalah pusat tata surya dan tidak berputar sedangkan matahari yang mengelilingi
bumi. Tentu ini bertentangan dengan sebagian orang yang pro bumi bulat, yang
mereka menyakini bahwa bumi itu bulat dan mengelilingi matahari.
Tentunya
Syaikh Al-‘Utsaimin dan Syaikh Bin Baz berpendapat bahwa matahari mengelilingi
bumi dengan penjelasan dalil dalam Al-Quran dan Sunnah. Syaikh Utsaimin
menjelaskan,
أما رأينا حول دوران الشمس على
الأرض الذي يحصل به تعاقب الليل والنهار، فإننا مستمسكون بظاهر الكتاب والسنة من
أن الشمس تدور على الأرض دورانا
“Pendapat
kami, matahari yang mengelilingi bumi sehingga terjadi pergantian siang dan
malam, kami berpegang teguh dengan dzahir Al-Quran dan Sunnah bahwa matahari
itu yang benar-benar mengelilingi bumi”10.
Syaikh
Bin Baz juga menafikan bahwa bumi berputar (berarti matahari yang berputar
mengelilingi agar terjadi siang dan malam), beliau berkata,
أما دورانها فقد أنكرته
وبيَّنتُ الأدلة على بطلانه
“Adapun
perputaran bumi maka aku ingkari dan aku telah jelaskan dalil tidak benarnya
(perputaran bumi)”11.
Dalil
yang mereka gunakan untuk pernyataan “matahari mengelilingi bumi” juga banyak,
salah satunya yang menurut mereka cukup jelas bahwa matahari bergerak
mengelilingi bumi, yaitu hadits riwayat Bukhari dan Muslim bahwa matahari
bergerak di peredarannya dan tatkala sampai di bawah Arsy maka matahari
bersujud.
عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ أَنَّ
اْلنَّبِيَّ قَالَ يَوْمًا : أَتَدْرُوْنَ أَيْنَ تَذْهَبُ هَذِهِ اْلشَّمْسُ؟
قَالُوْا: اللهُ وَ رَسُوْلُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: إِنَّ هَذِهِ تَجْرِيْ حَتىَّ
تَنْتَهِيَ إِلىَ مُسْتَقَرِّهَا تَحْتَ اْلعَرْشِ, فَتَخِرَّ سَاجِدَةً, فَلاَ
تَزَالُ كَذَالِكَ حَتىَّ يُقَالَ لَهَا: اِرْتَفِعِيْ, اِرْجِعِيْ مِنْ حَيْثُ جِئْتِ
فَتَرْجِعُ, فَتُصْبِحُ طَالِعَةً مِنْ مَطْلِعِهَا, ثُمَّ تَجْرِيْ لاَ
يَسْتَنْكِرُهَا اْلنَّاسُ مِنْهَا شَيْئًا حَتىَّ تَنْتَهِيَ عَلىَ
مُسْتَقَرِّهَا ذَلِكَ تَحْتَ اْلعَرْشِ فَيُقَالُ لَهَا: اِرْتَفِعِيْ,
أَصْبِحِيْ طَالِعَةً مِنْ مَغْرِبِكِ, فَتُصْبِحُ طَالِعَةً مِنْ مَغْرِبِِهَا.
فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ: أَتَدْرُوْنَ مَتىَ ذَاكُمْ؟ ذَاكَ حِيْنَ (لاَ يَنْفَعُ
نَفْسًا إِيْمَانُهَا لَمْ تَكُنْ ءَامَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِيْ
إِيْمَانِهَا خَيْرًا) (الأنعام: 158)
Dari Abu
Dzar bahwa pada suatu hari Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Tahukah kalian ke manakah
matahari ini pergi?” Mereka berkata, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui?”
Beliau bersabda, “Sesungguhnya matahari ini berjalan sehingga sampai ke tempat
peredarannya di bawah Arsy, lalu dia bersujud. Dia tetap selalu seperti itu
sehingga dikatakan kepadanya: ‘Bangunlah! Kembalilah seperti semula engkau
datang’, maka dia pun kembali dan terbit dari tempat terbitnya, kemudian dia
berjalan sehingga sampai ke tempat peredarannya di bawah Arsy, lalu dia
bersujud. Dia tetap selalu seperti itu sehingga dikatakan kepadanya:
‘Bangunlah! Kembalilah seperti semula engkau datang’, maka dia pun kembali dan
terbit dari tempat terbitnya, kemudian berjalan sedangkan manusia tidak menganggapnya
aneh sedikitpun darinya sehingga sampai ke tempat peredarannya di bawah Arsy,
lalu dikatakan padanya: ‘Bangunlah, terbitlah dari arah barat’, maka dia pun
terbit dari barat.” Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Tahukah kalian
kapan hal itu terjadi? Hal itu terjadi ketika tidak bermanfaat lagi iman
seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu atau dia belum
mengusahakan kebaikan dalam masa imannya”12.
Akan
tetapi yang mengatakan bahwa “bumi mengelilingi matahari” bisa membantah juga:
matahari itu memang bergerak dan mengelilingi pusat tata
surya. Mereka berpegangan pada fatwa ulama yaitu Syaikh Al-Albani
yang menyatakan bahwa bumi itu berputar dan beliau pun membawakan dalil dan
penjelasannya. Syaikh Al Albani berkata:
نحن في الحقيقة لا نشك في أن
قضية دوران الأرض حقيقة علمية لا تقبل جدلا
“Kami
sejatinya tidak ragu bahwa perputaran bumi merupakan fakta yang ilmiah dan
tidak bisa dibantah”13.
Demikianlah,
kesimpulannya mengenai apakah bumi datar atau bulat-bola, maka tidak kita
dapatkan dalil yang tegas menyebutkan “bumi itu bulat” atau “bumi itu datar”.
Yang benar adalah sesuai dengan
penelitian dan fakta ilmiah ilmu dunia
Apakah
bumi datar atau bulat maka kita kembalikan lagi kepada penelitian dan fakta
ilmiah. Hal ini dicerminkan dari sikap Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani di
mana beliau menggabungkan kedua ilmu yaitu fakta ilmu dunia (yang menurut
beliau benar) dan “yang tersirat” dalam Al-Quran dan Sunnah.
Simak tanya jawab beliau dan
kehati-hatian beliau dalam berfatwa,
سؤال من مسلم بريطاني / هل في
رأيكم أن العالم كروي أو مستقيم ؟
ج الشيخ : هذا السؤال جغرافي
وإلا ديني ؟
س / كلاهما
ج الشيخ : كروي
س / هل أخطأ ابن باز حينما قال
انها مستقيمة
ج الشيخ / مستقيمة أو مسطحة ؟
س / مسطحة
ج الشيخ / ليت أن الخطأ وقف عند
المسألة الجغرافية
Pertanyaan
untuk syaikh Al-Albani dari seorang muslim di Inggris:
Penyana:
Apa pendapatmu, apakah bumi itu bulat atau datar?
Syaikh:
Apakah ini pertanyaan geografi atau pertanyaan agama?
Penyanya:
Keduanya
Syaikh:
Bumi itu bulat-bola
Penanya:
Jika demikian syaikh Bin Baz salah mengatakan bumi lurus (ingat ada klarifikasi
bahwa syaikh Bin Baz mengatakan bumi itu bulat, pent)
Syaikh:
Lurus atau datar?
Penanya:
Datar
Syaikh:
Saya berharap itu adalah kesalahan geografi (Syaikh Al-Albani yakin Syaikh bin
Baz cerdas masalah agama sehingga, sehingga beliau berharap Syaikh bin Baz
menjawab dengan pengetahuan beliau dari ilmu geografi, pent)14.
Dari
tanya jawab ini kita dapat dua pelajaran penting:
Pertama: Syaikh Al-Albani sangat
hati-hati berfatwa sehingga beliau bertanya apakah bumi bulat atau datar
tersebut, apakah ditinjau dari segi ilmu agama atau ilmu geografi dan penanya
menjawab “keduanya”. Maka syaikh Al-Albani menjawab bahwa bumi itu bulat,
karena ditinjau dari ilmu geografi beliau bahwa bumi itu bulat, sedangkan dari
ilmu agama, beliau lebih condong dengan dalil yang tersirat (bukan dalil
tegas), karena tidak ada dalil yang tegas bahwa bumi itu bulat
Beliau
menjelaskan setelah tanya jawab tadi bahwa tidak ada dalil tegasnya, beliau
berkata,
ليس هناك نص قاطع يؤيد أحد
الوجهين المختلفين …بعض الآيات من القرآن الكريم التي تتعلق بهذا الموضوع يمكن أن
يفهم منها ثبات الأرض وسطحيتها ، والبعض الآخر يمكن أن يفهم منها حركتها ودورانها
“Tidak
ada dalil tegas yang mendukung dua pendapat yang berbeda ini… sebagian ayat
Al-Quran yang berkaitan dengan hal ini bisa jadi dipahami bahwa bumi itu tetap
dan datar dan sebagian ayat lainnya bisa saja dipahami bumi bergerak dan
berputar.”
Bahkan
beliau menegaskan selanjutnya, permasalahan bumi itu bulat atau datar bukanlah
permasalahan aqidah, beliau berkata
ولهذا قلنا أن هذه ليست مسألة
اعتقادية
“Karenanya
kami katakan bawa masalah ini bukanlah masalah i’tiqadiyah”15.
Tentunya
jika memang masalah aqidah tentu sudah dibahas dan menjadi penekanan utama oleh
banyak ulama dalam berbagai kitab mereka.
Kedua: Lihat sikap Syaikh
Al-Albani yang bersebrangan dengan Syaikh Bin Baz, beliau sangat berharap
Syaikh Bin Baz hanya salah dalam ilmu geografi saja dan ini wajar karena Syaikh
Bin Baz bukan ahli geografi dan hanya ikut saja dari apa info yang sampai ke
beliau.
Patut
direnungi oleh sebagian kecil saudara kita muslim yang mungkin saling berdebat
apakah bumi itu bulat atau datar sampai tahap mencela, menyindir dan sampai
bermusuhan dalam masalah ini, padahal mereka bersaudara dalam Islam dan yang
lebih penting hal ini bukanlah permasalahan aqidah.
Kesimpulan dari tulisan kami:
- Tidak
ada dalil yang tegas dalam Al-Quran dan Sunnah yang menyatakan bahawa bumi
itu bulat atau datar, sedangkan klaim ijma yang ada perlu dipertanyakan
validitasnya, karena diketahui ternyata ada beberapa ulama yang
menyelisihi klaim ijma’ tersebut
- Permasalahan
apakah bumi bulan atau datar bukanlah permasalahan aqidah.
- Jika
memang bukan permasalahan aqidah terutama, tidak layak bagi kaum muslimin
berpecah belah dalam hal ini, saling mencela, menyindir dan bermusuhan
dalam rangka mendukung pendapatnya.
4.
Karena bukan masalah aqidah maka tidak bisa
menyebabkan seseorang menjadi kafir hanya karena keyakinan apakah bumi bulat
atau datar. Karenanya syaikh Bin Baz ketika mengingkari bumi berputar (beliau
berpendapat bumi diam), tetapi beliau tidak mengkafirkan yang mengatakan bumi
berputar, beliau berkata,
ولكني
لم أكفِّر من قال به
“Akan tetapi aku tidak
mengkafirkan mereka yang mengatakan demikian”16.
5.
Apakah bumi itu bulat atau datar maka dikembalikan
kepada penelitian dan fakta ilmiah dan tentunya oleh para ahlinya dalam masalah
ini. Allah berfirman,
فَاسْأَلُوا
أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai ilmu jika kamu
tidak mengetahui” (An-Nahl:43).
6.
Dalil Al-Quran dan Sunnah yang sudah pasti dan
tegas (dalil qath’i) tidak akan bertentangan dengan fakta ilmiah dan akal
manusia yang sehat. Sebagaimana dijelaskan bahwa tidak ada dalil tegas apakah
bumi itu bulat atau datar. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan,
كل
ما قام عليه دليل قطعي سمعي يمتنع أن يعارضه قطعي عقلي
“Semua yang telah ada dalil
pasti/qath’i maka tidak bertentangan dengan akal yang sehat”17.
- Yang
lebih penting adalah dari “bumi datar atau bulat” adalah kita hidup di
atas bumi, akan meninggalkan bumi menuju kampung akhirat yang kekal serta
bagaimana agar bumi sebagai tempat mencari bekal untuk pulang ke kampung
akhirat yaitu bekal iman, takwa, amal kebaikan yang bermanfaat bagi
manusia dan makhluk di muka bumi.
Demikian
pemabahasan ini, semoga bermanfaat bagi kita.
***
@Laboratorium RS Manambai,
Sumbawa Besar, Sabalong-Samalewa
Penyusun: dr. Raehanul Bahraen
Artikel Muslim.or.id
Sumber:
___
1. Lihat Majmu’ Fatawa:
25/ 195
2. Fashl
fil Milal 2/78, Maktabah Al-Kaniwy, Koiro, Syamilah
3. Miftah
Daris Sa’adah 2/212, Darul Kutub Ilmiyah, Koiro, Syamilah
4. Nuniyyah
Al-Qahthani, Maktabah As-Sudaniy, Jeddah, Syamilah
5. Tafsir
Jalalain 1/805, Darul Hadits, Koiro, Syamilah
6. Tafsir Al-Qurthubi 10/13,
Darul Kutub Al-Mishriyyah, Koiro, 1384 H, Syamilah
7. Ma’alimut Tanzil 7/382, Darut Thayyibah, cet. IV, 1414 H,
syamilah. Silahkan baca tulisan kami selengkapnya mengenai posisinya
sejajar di link https://muslim.or.id/16573-mengenal-baitul-makmur-kabah-penduduk-langit.html
8. Lihat Majmu’ Fatawa wa Rasail 8/664
9. Fatwa Al-Lanah Ad-Daimah 26/414
10. Majmu’
Fatawa wa Rasail 1/71, Darul Wathan, 1413 H, syamilah
11. Majmu
Fatawa Syaikh Bin Baz 9/228, bisa di akses di link ini juga: http://www.binbaz.org.sa/article/472
12. HR. Bukhari dan Muslim
13. Silsilah
Huda wan Nur, kaset nomor 1/497. Simak juga penjelasan beliau di sini: https://www.youtube.com/watch?v=PdBDFXtYKhU
14. Silsilah Huda wan Nur, kaset nomor 1/436
15. Silsilah Huda wan Nur, kaset nomor 1/436
16. Majmu Fatawa syaikh Bin Baz 9/228, bisa diakses juga di link: http://www.binbaz.org.sa/article/472
Dar’ut Ta’arudh 1/80













